Santri Sontoloyo

0 Komentar

Muhammad Arif Bin Yunus, Alumni Pondok Pesantren Salifiyah Parappe

KALAU Sukarno menerbitkan buah pemikirannya tentang pembaruan pemikir Islam dengan tema buku “Islam Sontoloyo” yang diterbitkan SEGA ARSY, maka penulis juga terinspirasi mengangkat tema yang sama, dan tentunya konteks yang berbeda. Yang mana Sukarno berbicara tentang konsep Islam Indonesia yang tidak mengalami perkembangan pemikiran pada waktu itu, sementara penulis lebih mengkrucut pada wilayah manusia yang melabili diri sebagai seorang santri.

Dalam hal ini bukan berarti penulis ingin melakukan pembaruan atas nama santri. Penulis menghadirkan tulisan ini dengan tema “Santri Sontoloyo”, ingin mengkanter kebanyakan orang yang mengatas namakan dirinya “santri” tetapi eksisitensi aplikatifnya jauh dari esensi “santri” yang sebenarnya, dan anehnya orang-orang demikian kadang lebih laku dari santri yang betul-betul santri, dan jikalau hal ini dibiarkan bukan malah membuat nama santri harum, tetapi justru mengkebiri nama santri menjadi sesuatu yang buruk.

Bagi penulis label atau penamaan kata “santri” itu sesuatu yang sangat sakral dan selalu bergandengan dengan kata “pondok” dan “pesantren” tentunya melalui sejarah yang sangat panjang di bumi Indonesia.

Zamaksyari Dhofier dalam buku “Tradisi Pesantren” (41-2015), mengungkapkan bahwa sebelum tahun 1960-an, pusat-pusat pendidikan pesantren di indonesia lebih dikenal dengan nama “pondok”.

Menurut Zamaksyari Dhofier Istilah pondok berasal dari pengertian asrama-asrama para santri atau tempat tinggal yang dibuat dari bambu.

Lebih lanjut, Zamaksyari Dhofier menjelaskan bahwa istilah pondok terambil dari bahasa Arab “funduq” yang artinya asrama. Sementara “pesantren” berasal dari kata “santri” yang dengan awalan pe di depan dan akhiran an yang bermakna tempat tinggal para santri.

Sementara Profesor Johns mendefenisikan “santri” dengan mengatakan bahwa, istilah santri berasal dari bahasa “Tamil” (salah satu negara bagian selatan India, negara bagian ini beribu kota di Chennai) yang berarti “guru mengaji”.

Namun pendefesian Profesor Johns ini berbeda dengan apa yang di ungkapkan oleh C.C. Berg dalam buku ‘Tradisi Pesantren’, C.C. Berg mengungkapkan bahwa istilah “santri” berasal dari istilah “Shastri” yang dalam bahsa India bermakna “orang yang tahu menahu buku-buku suci Agama Hindu, atau seseorang yang ahli kitab suci Agama Hindu”.

Dalam hal ini Zamaksyari Dhofier memperjelas bahwa dari asal-usul kata “santri” banyak sarjana berpendapat bahwa lembaga pesantren pada dasarnya adalah suatu lembaga pendidikan keagamaan Indonesia pada masa menganut agama “Hindu Buddha” yang bernama “Mandala” yang kemudian di Islamkan oleh para kiyai.

Olehnya itu, terlepas dari asal-usul kata “santri” dan “pondok” dari mana, yang jelas ciri umum pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam asli Indonesia. Yang mana santri yang terlibat/belajar/mengajar dalam pondok pesantren merupakan warisan kekayaan bangsa Indonesia yang terus berkembang.

Olehnya itu di zaman 4.0 ini atau zaman Millenial ini santri (pondok pesantren) menjadi salah satu penyangga yang sangat penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Olehnya itu penulis menegaskan bahwa “jangan main-main dengan kata santri” atau jangan mudah melabeli diri sebagai seorang santri!.

Adapun menjadi santri yang betul-betul santri bukan “santri sontoloyo”, maka penulis menawarkan sebuah paradigma yang semestinya taklazim lagi, yang mana penulis menamai dengan paradigma lima pilar: yaitu pertama, ash-Shidqu (pilar kejujuran dan kebenaran), kedua, al-Amanah Walwafi’ Bil ‘Ahdi (pilar kesetiaan dan komitmen), ketiga, al-‘Adalah (pilar keadilan), keempat, At-ta‘awun (pilar solidaritas), dan kelima, al-Istiqamah (pilar kedisiplinan dan konsistensi).

Kelima pilar di atas menjadi pondasi dasar seorang santri dalam berinteraksi sesama manusia, jikalau hal demikian ini diterapkan oleh seluruh elemen manusia dalam berinteraksi dalam hal apapun baik secara garis kultur maupun struktural maka terciptanya masyarakat Indonesia yang aman dan damai. Dan khusus bagi santri atau yang mengaku santri diharapkan kelima elemen diatas mampu dijaga dengan sebaik mungkin sehingga kesucian santri tidak ternodahi.

Sementara pada ranah partikulir kecerdasan santri, bagi penulis menawarkan tiga pokok kecerdasan yang harus dimiliki oleh santri, seperti apa yang di ungkapkan H. Zainal Arifin Thoha dalam buku “Runtuhnya Singgasana Kiai” yakni: Pertama, kecerdasan fikiran. Kedua, kecerdasan perasaan, dan yang Ketiga, kecerdasan tindakan.

Pertama, kecerdasan fikiran (tafakkur/ijtihad/refleksi), hanya dimungkinkan mana kala santri dapat mengalahkan atau mengendalikan nafsu kebinatangan. Semakin watak kebinatangan dirawat dan diberi makan, sebagai mana wajarnya binatang, ia bukannya semakin mengabdi, melainkan sebaliknya. Bahkan tidak sedikit kejadian perawat binatang yang merawat, menyayangi, memberi makan dari kecil, ujung-ujungnya perawat itulah yang dimakan.

Kedua, kecerdasan perasaan(tadzakkur/mujahadah/transendensi), hal ini hanya di mungkinkan manakala santri dapat menghindari watak ketamakan. Sebagaimana ungkapan H. Zainal Arifin Thoha bahwa “barang siapa hatinya yang terpencut oleh uang, maka hatinya pun berbentuk uang, kalaupun masih ada Tuhan makan Tuhan pun digambarkan sebagai tuan uang, hingga kepada-nya melulu memohon uang, jika uang telah dipertuhankan, maka bisa dipastikan, hari-harinya hanya habis untuk mengejar uang.

Ketiga, kecerdasan tindakan (tadabbur/jihad/aksi). Hal ini akan mampu apabila santri dapat terbebas dari kebinatangan dan ketamakan. Perlu diketahu bahwa kekuatan maupun tindakan bukanlah sifat kebinatangan melainkan sesuatu yang inheren dan fitrah manusia.

Ketiga kecerdasan diatas sangat dibutuhkan oleh santri apalagi dalam menghadapi tantangan yang begitu besar di era globalisasi seperti sekarang ini. Ketiga kecerdasan tersebut juga jikalau dimiliki oleh santri, maka mampu memetakkan atau membaca setiap orang yang ingin memanfaatkan pondok pesantren atau santri dalam ranah politik kotor dan sebagainya.

Agar terhindar dari ungkapan “santri sontoloyo” ketiga kecerdasan di atas ini menjadi pemfilter bagi santri dalam berintrasi secara luas. Santri semestinya dapat menyeimbangkan ketiga kecerdasan diatas, sehingga kaum santri tidak hanya berputar pada ranah cerdas dalam berfikir, cerdas dalam berilmu, cerdas dalam berhitung dan sebagainya, tetapi terutama diharapkan memiliki keluasan wawasan, kedalaman pertimbangan, kejelian, kecermatan dan jangkauan yang jauh kedepan.

Sementara dengan kecerdasan perasaan para santri menurut H. Zainal Arifin Thoha tidak hanya menjadi pelopor, melainkan penjaga dan pengendali orbit eksistensi dan survivalitas nilai-nilai kemanusian. Sedangkan pada ranah kecerdasan tindakan, santri diharapkan lebih dapat bersikap pro-aktif, bukan pro-pasif.

Dan tentunya para santri tidak terlalu tergoda dengan globalisasi dalam artian menjadikan prodak globalisasi sebagai wacana saja bukan pada wilayah tujuan sehingga santri tidak masuk pada wilayah “santri sontoloyo”.

Alumni Pondok Pesantren Salifiyah Parappe

Penulis : Muhammad Arif Bin Yunus
Tulisan ini berasal dari redaksi

0 Komentar