Mandar dan Kemerdekaan

0 Komentar

Guru Besar Universitas Negeri Makassar (UNM)/Prof. Dr. Gufran Darma Dirawan, ST, M. EMD.

Hari itu 1829. Seluruh pasukan telah berkumpul di depan rumah Arajang , mereka bersimpuh untuk menanti datangnya titah Raja. Semua diam tiada satu pun yg bisa berkata apa-apa. Ditengah rintik hujan yg menghujam ke tanah mandar, entah apa gerangan yang mereka tunggu .

Satu persatu pabbicara naik ke rumah Maradia untuk mengambil keputusan. Sementara itu puluhan padewakang telah siap di tepi sungai Mandar menanti titah raja. Hari ini menjadi penting karena masa depan persekutuan Pitu Banana Binanga dan Pitu Ulunna Salu menjadi taruhannya .

Titah Arajang hadir dengan konsekwensinya bertarung menghadapi ketidakadilan VOC yg mengatur perdagangan, pergudangan dan pelayaran. Titahnya sangat sederhana .

Malewu parri di mo’ o
Mallewu parri di ma ang
Jari lapar lappar na mo’o
O diada o dibiasa
Buttu buttuna mo o
O diada o dibiasa
Sasi sasina mo’o
O diada o dibiasa
Tau taunna mo o
O diada o dibiasa .

Sejak saat itu mereka berjuang mempertahankan kemerdekaan yg mereka miliki melawan ketidakadilan dari VOC.

Perjuangan inilah yg disebut Mallewu Tallo. Dimana satu Titah Arajang akan menjadi konsekwensi dari kemerdekaan hakiki orang Mandar dalam menjalani kehidupannya .

Penulis : Gufran Darma Dirawan
Tulisan ini berasal dari redaksi

0 Komentar